oleh

Kapolres Nisel Ajak Ketua BEM Mahasiswa YPNS Berdialog

NISEL-SUMUT|wartaposgroup.co.id Kapolres Nisel Akbp I Gede Nakti Widhiarta, S.I.K berdiskusi kepada para Pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) YPNS STIH, STIE dan STKIP Nias Selatan, bersama beberapa media untuk silahturahmi, pertemuan ini berlangsung di Cafe Bola Jln, Dermaga Baru Telukdalam, sabtu 28/09/2019

Pada pertemuan itu hadir, Kasat Intelkam Polres Nisel Iptu Supriyadi, KBO Sat Intelkam, sejumlah Pjs. Kanit Sat Intelkam dan sejumlah Personil Intel dan satuan Polres Nisel lainnya. Ketua  BEM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE),  Roswita Wenti Halawa, Ketua BEM Sekolah Tinggi Ilmu Hukum ( STIH), Kebenaran Giawa, Ketua BEM Sekolah Tinggi Ilmu Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP),  Jonatan E Laia.
f
“Kapolres Nisel mengatakan, pihaknya mengundang pengurus BEM bertujuan yakni, untuk saling shering dalam menyikapi situasi aksi demo mahasiswa yang terjadi di bebetapa daerah akhir-akhir ini.

Kami mengundang adek-adek mahasiswa tujuannya untuk shering menyikapi situasi yang terjadi saat ini di sejumlah daerah. Kami hanya ingin tau sikap adek-adek menyikapi situasi tersebut.,”ucapnya

Lalu ia juga, apresiasi sikap mahasiswa Nisel karena ikut menjaga situasi kondusif di Wilayah Nias Selatan, meskipun di sejumlah daerah Indonesia terjadi demo.,”jelas Nakti

Ia juga menyampaikan kepada pengurus BEM YPNS, “Jika ingin menyampaikan pendapat di depan umum, kami dari Kepolisan Resor Nias Selatan siap memfasilitasi, namun  dengan mengikuti aturan yang berlaku.,”Tandasnya

Sembari Ia berharap kepada pengurus BEM yang hadir, dapat memberi masukan atau kritikan guna menyikapi aksi demo mahasiswa yang terjadi baru-baru ini di sejumlah daerah.,”tuturnya

Menanggapi beberapa poin yang di sampaikan mahasiswa, orang nomor satu di jajaran polres nisel tersebut mengatakan, “Saya juga ikut prihatin. tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian, secara pribadi saya sesali atas kejadian itu.,”jelasnya

“Ketua BEM STIH Kebenaran Giawa, apresiasi kepada Kapolres Nisel dan jajaran atas pertemuan itu.

Dia menyampaikan bahwa, pihaknya dalam menyikapi tindakan represif oknum Polri terhadap mahasiswa saat aksi damai baru-baru ini, dinilai tidak mencerminkan sikap mengayomi namun hanya melukai perasaan para mahasiswa.,”pungkasnya

Walau demikian, ia juga mengharapkan kepada Kapolres Nisel untuk menyampaikan sikap mereka ke Pimpinan agar dalam menangani aksi-aksi ke depan, supaya dilakukan dengan tindakan persuasif dan dengan cara-cara elegan.,”jelasnya

“Kami dari BEM STIH menyikapi aksi mahasiswa baru-baru ini di luar sana, bukan tidak mendukung atau kami diam, namun kami, hal pertama butuh data. kemudian kalaupun ada aspirasi, kami bisa sampaikan melalui media dan melalui pihak Kepolisian.,”ujarnya

Ia juga menyampaikan, kami disini ikut merasakan apa yang mereka rasakan ketika itu.

Ketua BEM STIE, Roswita bahwa pihaknya juga mengapresiasi aksi yang dilakukan oleh rekan-rekan mahasiswa di sejumlah daerah.

Namun menurutnya, aksi tersebut, pihaknya bukan tidak mau menggelar  aksi terkait persoalan RUU KUHP dan beberapa RUU lainnya itu.

“Tetapi, penyampaian aspirasi itu menurut-Nya, bisa disampaikan melalui dialog, seperti yang digelar oleh Kapolres dan jajarannya saat ini. ditamvah lagi, sudah ada pernyataan Presiden Jokowi untuk menunda pengesahan sejumlah RUU tersebut.

Roswita juga mengatakan, kami berharap kepada Pak Kapolres Nisel untuk menyampaikan rasa solidaritas kami, atas pemukulan rekan-rekan kami oleh oknum aparat kepolisian.,”jelasnya

Kami meminta pihak Pemerintah agar melibatkan semua unsur termasuk pihak akademisi saat membuat Rancangan Undang-Undang.,”pinta Roswita.

Ketua BEM STKIP, Jonathan Eklesia Laia, juga mengapresiasi Kapolres Nisel dan jajaran, yang mengayomi masyarakat, hal itu dibuktikan dengan melakukan dialog bersama mahasiswa, dalam menyikapi aksi mahasiswa di berbagai daerah baru-baru ini.

“Menyikapi aksi mahasiswa yang terjadi baru-baru hingga menimbulkan korban jiwa, saya sebagai mahasiswa tidak pernah menyalahkan perjuangan rekan-rekan  mahasiswa di luar sana.

Kembali dia menjelaskan, bahwa kita teringat dengan pahlawan-pahlawan reformasi Tahun 1998. Siapa yang bergerak yakni mahasiswa.,”pungkasnya.

Kemudian, kenapa kemudian teman-teman mahasiswa di Nias Selatan tidak sepanas rekan-rekan mahasiswa di luar sana.

Alasan-Nya ialah, bukan karena pihaknya diam, takut, apatis atau alergi terhadap situasi itu, akan tetapi mereka berusaha berpikir untuk memberi solusi.

“Saya sering berdiskusi dengan rekan-rekan  BEM STIE dan STIH terkait ini dan saya sampaikan bahwa apakah kita turun atau tidak.

Artinya, bukan dalam arti kita turun tanpa bukti atau data. Namun kita berpikir secara solutif.,”ucap Jonathan.

Ia juga mengakui bahwa, masih ada mahasiswa yang terprovokasi jika menonton video ada pemukulan mahasiswa oleh oknum aparat keamanan dengan sadis.

“Tentu ada rasa emosi dan saya secara pribadi pun emosi bahkan secara pribadi akan mengajak masyarakat “ayo kita turun,  serang. Tapi hal itu tidak, dan itulah bedanya mahasiswa dengan masyarakat biasa.

Jadi, melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini, dan jika misalnya terus menggenjot untuk menurunkan massa tanpa melakukan audensi, sosialisasi, diskusi , manalah intisari dari akademik itu.,”sebut Jonathan

Akan tetapi, “ketika Pemerintah birokrasi kemudian menutup telinga, hanya satu kata “yaitu lawan.

Jonathan juga menegaskan, kalau misalnya ada indikasi dorongan dari pihak lain terkait aksi mahasiswa baru-baru ini,  kita pasti melepaskan diri dari situ karena jauh dari perjuangan murni.

Kemudian, kalau tujuannya adalah menurunkan Presiden, itu  juga sudah jauh dari konteks yang ada karena tujuan utamanya yakni untuk memprotes RUU KPK, RUU KUHP dan RUU lain. Maka, kita satukan pemikiran untuk menunggu karena bapak Presiden sudah menyampaikan penundaan pengesahan RUU tersebut untuk direvisi.,”jelas Yonathan.(Suasana H.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed